Maret10 - Cara 'Menebus' Waktu. March 10, 2017 oleh Tim Khotbah.org. Ayat Inti : "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.". Efesus 5:15-16 {ITB} 1Februari 2021. Khotbah XXIV. Untuk Minggu Ketiga Setelah Paskah. Tentang Berharganya Waktu. "Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi" - Yohanes, xvi. 16. "Tiada sesuatu pun yang lebih singkat daripada waktu, tetapi tiada sesuatu pun yang lebih berharga. Tiada sesuatu pun yang lebih singkat daripada waktu; sebab masa lalu HIDUPADALAH SEBUAH KESEMPATAN BERHARGA (2) "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba." Pengkhotbah 9:12. TEMA: PRMUDA YANG TIDAK MENYIA-NYIAKAN WAKTU DAN KESEMPATAN NAS : FILIPI 5:6 PENGKHOTBAH : Ibu. Ari Dwi Atmaja #. RENUNGAN : Jadilah pemuda yang tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan sebab hari - hari ini jahat, sebab di didalam TUHAN kesempatan hanyalah sekali. TEMA : OBAT TAWAR HATI NAS : 2 KORINTUS 4:16-18 PENGKHOTBAH : Pdt. Matius Dharmani Makadari itu sebaiknya kita tidak membawa HP ketika akan sholat Jum'at, kalau pun memang membawa HP, hendaknya kita mensenyapkan HP, mematikan data internet, mengaktifkan mode pesawat, atau mematikan HP. Memainkan HP ketika khotib sedang berkhotbah Jum'at memang menghilangkan rasa ngantuk. Sehingga ketika khotbah berlangsung kita tidak Kesempatanhidup dan waktu yang masih dianugerahkan Allah SWT kepada kita hendaknya dapat dimaksimalkan dengan sebaik-baiknya. Kita tidak mengetahui kapan dan dimana ajal akan menjemput. "Seandainya manusia mengetahui apa yang mereka dapati di dalam shalat Isya dan Shubuh tentang kebaikannya, tentulah mereka akan mendatangi shalat . Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Tulisan berikut adalah isi pesan yang saya sampaikan kepada anak-anak SMP Kristen Calvin ketika saya menjadi Pembina upacara. Silahkan yang membatasi manusia diciptakan oleh Tuhan dan Tuhan memberkati waktu itu dengan kesempatan-kesempatan. Waktu itu berharga, maka tak heran ada pepatah mengatakan “Time is money”. Ada dua istilah Yunani untuk cukup menggambarkan waktu dan kesempatan, yaitu kronos dan kairos. Kronos menggambarkan waktu yang berjalan dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari. Kita sering menggunakan istilah kronologis untuk menunjukkan rentetan peristiwa yang terjadi dari satu waktu ke waktu yang lain. Kairos sendiri berfokus pada momentum-momentum penting dalam kronologis waktu yang terus berjalan. Itulah kesempatan-kesempatan yang berbuah karena kita respon secara dalam waktu yang disediakan Tuhan tidak senantiasa berulang. Bahkan sebenarnya kesempatan yang persis sama tidak akan pernah terulang. Hari ini berbeda dari kemarin, jam sekarang ini ketika kita sedang upacara berbeda dari satu jam lalu, mungkin kita sedang dalam perjalanan ke sekolah. Menit ini berbeda dari beberapa menit yang lalu. Jika kita mengerti dan menghargai setiap waktu yang tersedia bagi kita, kita akan menjadi orang Kristen yang saya masih SD, saya melihat anak SMP lebih keren dari SD, maka ada perasaan ingin segera menjadi anak SMP. Ketika saya SMP, kembali saya melihat SMA lebih menarik. Tak selesai, ketika saya SMA, saya berpikir orang-orang kuliah itu enak sekali. Jadwal kuliahnya tidak sepadat SMA, pikir saya pasti saya tidak stres dengan beban kuliah yang ada. Ternyata saya salah, jadwal kuliah memang tidak sepadat jam belajar di SMA, tetapi beban tugas kuliah jauh lebih berat dibandingkan SMA. Tingkatan tugas yang dituntut dosen kepada mahasiswa jauh lebih berat daripada yang dituntut guru SMA saya dulu. Lalu dalam beban kuliah yang berat itu, sekali lagi saya berpikir, nanti begitu saya selesai kuliah, dan sudah bekerja, pasti hidup saya akan lebih tenang, bebas dari tugas-tugas yang harus dikumpulkan kepada dosen. Tapi itu hanya pikiran saya, beban tanggung jawab bekerja ternyata jauh lebih besar daripada beban tanggung jawab mengerjakan tugas kuliah. Tapi kali ini saya mau berpikir apa lagi? Tidak, mau berpikir pun, tidak banyak pilihan yang tersedia. Satu pikiran yang agak nakal yang terlintas adalah ternyata masa paling menyenangkan di antara beberapa jenjang kehidupan saya adalah masa SD. Saya tidak boleh berpikir untuk cari pekerjaan yang lebih ringan beban tanggung jawabnya. Di dalam Alkitab dituliskan kepada yang setia dalam perkara kecil akan dipercayakan perkara yang besar, bukan kebalikannya. Saya tidak boleh berpikir untuk berhenti bekerja dan misalnya hidup dengan uang dari orang tua. Alkitab berkata jikalau engkau tidak bekerja, janganlah engkau makan. Jelas sekali saya harus bagaimana seharusnya kita bersikap dalam setiap tahap kehidupan kita? Alkitab mengatakan untuk segala sesuatu ada waktunya. Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara. Ada waktu untuk SD, ada waktu untuk SMP, ada waktu untuk SMA, ada waktu untuk kuliah, dan seterusnya. Itu adalah waktu kronologis yang bisa berisi kairos yang berbeda sekali antara satu orang dengan orang yang lain tergantung bagaimana dia mengisi setiap waktu yang tersedia dan mengambil setiap kesempatan yang ada. Tentunya kita harus membedakan antara menghargai kesempatan dengan menjadi opurtunis. Orang yang menghargai waktu merupakan salah salah ciri orang yang menghormati Sang Pemberi Waktu, yaitu Tuhan. Opurtunis bukannya menghargai waktu yang diberikan Tuhan, tetapi mencuri setiap kesempatan untuk mengambil keuntungan dan biasanya dengan merugikan orang lebih spesifik kita lihat. Ada waktu untuk SMP. Apa yang kalian isi ke dalam masa SMP kalian? Zaman ini menyediakan banyak sekali pilihan kepada kalian, sebagian besar menjerumuskan kalian. Banyak game yang tersedia untuk dimainkan. Kalian bisa mainkan satu jam, tetapi tidak sedikit yang sampai tidak tahu waktu. Saya tidak bermaksud mengatakan sama sekali tidak boleh bermain game, tetapi harus ingat waktu jangan dihambur-hamburkan untuk game. Begitu banyak film yang bisa kalian tonton. Namun, apakah zaman ini hanya berisi godaan yang lebih besar, tidak ada kesempatan yang lebih besar? Tidak. Saya harus mengatakan saya “iri” dengan kalian. Dulu sewaktu saya sekolah, bahkan dari SD sampai SMA, saya hanya tahu tentang gambar pemandangan, dan herannya gambar saya mungkin mirip dengan gambar pemandangan yang dilukis oleh anak yang di Aceh, Medan, Palembang, Pontianak, Makassar, Manado, Sumba, Papua, dan bahkan dengan sebagian orang-orang Jakarta. Saya tidak mengenal gambar perspektif, apalagi gambar abstrak. Bagi saya gambar abstrak, ya benar-benar abstrak. Guru Bahasa Inggris SMP saya mengajarkan this singular dengan these plural dengan sangat salah sekali. Guru Bahasa Inggris SMA saya berkata di kelas, jika kalian ingin bertanya kepada Bapak, jangan dengan niat ingin menjebak Bapak. Dia sangat tidak berkompetensi mengajar Bahasa Inggris karena sebenarnya dia sendiri tidak bisa berbicara Bahasa Inggris. Perpuskakaan seperti di Sekolah Kristen Calvin yang terus menerus menambah koleksi buku mungkin hampir tidak ditemukan ditempat lain. Kesempatan yang kalian dapatkan begitu besar. Apakah akan kalian hargai atau kalian buang? Hargailah waktu tiga tahun di SMP Kristen Calvin dengan belajar sebaik-baiknya. Jangan sampai kita termasuk ke dalam suatu kelompok yang dituliskan oleh Alkitab sebagai “babi”. Dalam Alkitab tertulis, jangan lemparkan mutiara kepada babi, supaya jangan diinjak-injak dengan kakinya, lalu iya berbalik mengoyak kamu. Mutiara adalah metafor untuk sesuatu yang sangat berharga. Dan babi sama sekali tidak menghargainya. Perhatikanlah peringatan Alkitab dan janganlah kita menjadi musuh Tuhan karena Dia berkuasa untuk mengikatkan batu kilangan ke leher kita dan menggelamkannya ke dasar lautan. Lihat Pendidikan Selengkapnya Konten ini adalah kiriman dari pembaca Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini. inet – اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ وَقَدَّرَ الأَشْيَاءَ، وَاصْطَفَى مِنْ عِبَادِهِ الرُّسُلَ وَالأَنْبِيَاءَ، بِهِمْ نَتَأَسَّى وَنَقْتَدِي، وَبِهُدَاهُمْ نَهْتَدِي، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى بِمَا هُوَ لَهُ أَهْلٌ مِنَ الحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُوْمِنُ بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ، أَنْزَلَ عَلَيْهِ رَبُّهُ الْقُرْآنَ الْمُبِيْنَ, هُدًى وَنُوْرًا لِلْمُؤْمِنِيْنَ، وَجَعَلَ رِسَالَتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ, وَآلِ كُلٍّ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah Setiap orang yang beriman pasti menyadari bahwa kehidupan di muka bumi ini bukanlah tanpa batasan waktu. Setiap orang menjalani kehidupan sesuai “kontraknya” masing-masing dalam batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Umur manusia berbeda satu dengan lainnya, begitu pun amal dan perbuatannya. Setiap mukmin akan menyadari bahwa ia tidak akan selamanya hidup dan tinggal di dunia ini. Bahwa keberadaannya di alam ini hakikatnya sedang menempuh proses perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat yang kekal dan hakiki. Sikap yang demikian sungguh sangat berbeda dan bertolak belakang dengan sikap orang-orang yang hakikatnya tidak beriman. Sebagaimana hal ini disinggung dalam firman Allah SWT بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى “Akan tetapi kalian orang-orang yang ingkar justeru lebih memilih kehidupan dunia. Padahal sungguh kehidupan akhirat itu jauh lebih baik dan kekal. QS. al-A’la 16-17. Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah, Ada beberapa hal yang sering manusia lupakan, di antaranya pertanyaan Kenapa manusia diciptakan? Apa kepentingan dan tugas mereka dalam kehidupan ini? Sering sekali manusia melupakan pertanyaan-pertanyaan ini sehingga mereka hidup dalam penuh kelalaian, hidup hanya dipergunakan untuk bersenang-senang, makan, minum, dan kesenangan-kesenangan lain yang bersifat dunia. Mereka sama sekali tidak memikirkan tentang proses kejadian dirinya. Sehingga ketika ajal menjemputnya, penyesalanlah yang menghinggapinya di mana saat itu penyesalan sudah tidak berarti lagi. Dari sinilah perlunya iman yang kuat dalam diri kita supaya kita dapat berhati-hati dengan waktu. Pandai-pandailah memanfaatkannya. Ingatlah! Hari-hari kita jangan dilewati begitu saja tanpa hal yang bermanfaat dan bernilai positif. Sesaat demi sesaat, semua berlalu begitu cepatnya. Begitulah, diri kita berpindah dari pagi ke petang dan dari petang hingga pagi kembali. Apakah kita pernah bermuhasabah introspeksi terhadap diri kita sendiri? Sehingga kita bisa melihat lembaran-lembaran hari-hari kita dengan amal apa kita membukanya dan dengan amal apa pula kita menutupnya? Ada sebuah pepatah berbunyi “Time is money”,“al-waktu ka al-saif”. Waktu adalah uang, waktu adalah pedang, waktu adalah perjalanan yang tidak akan pernah kembali. Itulah ungkapan yang sering kita dengar untuk menghargai waktu. Waktu adalah kehidupan. Tidak ada yang lebih berharga dalam kehidupan ini setelah iman selain “waktu”. Waktu adalah benda yang paling berharga dalam kehidupan seorang muslim. Ia tidak dapat ditukar oleh apapun. Ia juga tidak dapat kembali jika sudah pergi. Sungguh sangat merugi orang yang menyia-nyiakan waktunya. Firman Allah وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran. Al-Ashr1-3. Dalam Islam, waktu bukan hanya sekadar lebih berharga dari pada emas. Atau seperti pepatah Inggris yang menyatakan time is money. Lebih dari itu, waktu dalam Islam adalah “kehidupan”, al-waqtu huwa al-hayah, demikian kata AS-Syahid Hasan Al-Banna. Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah Dalam peribahasa orang barat “the time is money”, waktu adalah uang. Orang-orang arab sendiri mengibaratkan “al-waqtu kas-saif”, waktu itu ibarat pedang. Nampaknya dari pengibaratan waktu di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Orang-orang barat yang selalu mengejar kehidupan duniawi mengibaratkan waktu adalah uang karena mereka merasa jika kehilangan satu detik saja maka uang akan melayang. Sedangkan orang arab yang memang dari sebelum Islam datang pun sudah amat suka bersyair, maka lahirlah peribahasa waktu yang diibaratkan seperti pedang. Satu sisi pedang bisa menyelamatkan nyawa seseorang, tapi di lain waktu ia bisa sangat berbahaya bahkan bisa mengakibatkan kematian itu sendiri. Adapun pepatah yang mengatakan bahwa waktu lebih berharga daripada uang, karena sejatinya uang adalah harta dunia yang bisa dicari. Sedangkan waktu adalah karunia Allah SWT yang tidak bisa dicari bahkan untuk mengembalikan satu detik yang telah kita lewati pun adalah sesuatu yang sangat mustahil bisa terjadi. Kehidupan duniawi memang dihiasi berbagai kesenangan, sehingga dengan kesenangan yang bersifat sementara tersebut membuat manusia sering terlena dan lupa waktu. Bahkan tidak jarang banyak waktu yang terbuang hanya untuk menikmati kehidupan duniawi semata tanpa berpikir bahwa dirinya kelak akan menghadap ke hadirat Sang Maha Pencipta untuk mempertanggung jawabkan semua amalan perbuatannya selama hidup di dunia. Maka kenapa kita harus terlena dengan kehidupan dunia? Ingatlah, kematian adalah suatu peristiwa yang pasti terjadi pada semua makhluk hidup sebagai tanda habisnya masa kontrak di dunia. Firman Allah surat Ali-Imran ayat 185. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ “ Setiap makhluk berjiwa pasti mengalami kematian.” Ali Imron 185 Dunia ini adalah tempat berbuat dan berbuat, tempat untuk berusaha dan bekerja, tempat untuk melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan jahat. Tempat untuk mencari bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Firman Allah وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Al Qashash 77 Hadirin sidang Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah SWT Supaya manusia termotivasi untuk bisa memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya, ada tiga pertanyaan mendasar mengenai keberadaan dan tujuan manusia di dunia ini dan pertanyaan itu berlaku sepanjang masa. Tiga pertanyaan tersebut akan membekas dalam hati manusia jika ia menjawabnya dengan penuh perenungan. Pertanyaan pertama, darimana kita berasal? Pertanyaan ini adalah merupakan simpul akidah, yang menurut kaum materialis mereka tidak mempercayainya. Mereka menganggap bahwa dunia dan isinya ini muncul dengan sendirinya. Sedangkan bagi orang yang beriman, pertanyaan ini akan memberi atsar yang kuat baginya. Pertanyaan ini akan mengingatkannya bahwa dia hanyalah makhluk yang tidak sempurna, makhluk yang hina yang tidak pantas untuk menyombongkan diri. Makhluk yang tidak mampu apa-apa kecuali Allah yang menghendakinya. Pertanyaan kedua, untuk apa kita diciptakan? Pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang wajib dijawab oleh setiap orang setelah mengetahui bahwa ia di dunia ini hanyalah makhluk bagi Allah dan makhluk yang dipelihara oleh Allah Sang Pemelihara alam ini. Yaitu melalui penjabaran untuk apa manusia diciptakan? Kenapa manusia diberi keistimewaan yang lebih dibanding makhluk yang lain? Dan apa kepentingan mereka di atas bumi ini? Perlu diketahui, bahwa manusia diciptakan di dunia ini dengan berbagai kelebihannya, bukan hanya sekedar untuk memenuhi hawa nafsu belaka, tapi Allah jadikan manusia di muka bumi ini adalah sebagai khalifah, sebagaimana firman-Nya وإذ قال ربك للملائكة إني جاعل في الأرض خليفة قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك قال إني أعلم ما لا تعلمون “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” Al Baqarah 30 Hal pertama yang harus diketahui manusia sebagai khalifah di muka bumi adalah mengenal Allah dengan benar dan menyembah-Nya dengan sebenar-benar penyembahan. Karena manusia diciptakan di muka bumi sebagai khalifah adalah untuk beribadah hanya kepada Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam Firman Nya وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنسَ إِلا لِيَعْبُدُون ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Adz-Dzariyat 56 Pertanyaan Ketiga, kemanakah tujuan kita? Pertanyaan ketiga ini bagi kaum materialis, mereka memberikan suatu jawaban. Tetapi hal itu justru menurunkan martabat kemuliaan manusia menempati kedudukan binatang. Mengenai tempat kembali manusia setelah menjalani kehidupan bermasyarakat, dengan sederhana sekali mereka mengatakan secara mutlak manusia akan hancur dan binasa. Mereka dilipat oleh bumi sebagaimana penguburan bermilyar binatang dan makhluk lainnya di dalam perut bumi. Jasad ini akan kembali ke unsur-unsur penciptaannya yang pertama. Jadi, mereka akan kembali menjadi debu yang diterbangkan oleh angin. Begitulah cerita kehidupan manusia menurut mereka. Tiada keabadian dan pembalasan, tiada perbedaan antara yang berbuat baik dan yang berlaku jahat. Berbeda dengan orang mukmin, tentu mereka sudah mengerti ke mana tujuan mereka pergi. Mereka menyadari bahwa dunia ini hanya sesaat. Dari tiga pertanyaan di atas, jika seseorang bisa merenungkannya dengan penuh penghayatan, maka ia akan menjadi seseorang yang rajin dan bisa memanfaatkan waktunya dengan baik. Sehingga tidak akan timbul penyesalan di kemudian hari. Hadirin sidang jama’ah jumat yang berbahagia, Salah satu yang sering dilalaikan oleh manusia adalah waktu luang. Di mana manusia memiliki jeda dalam rumitnya aktivitas sehari-sehari. Orang sesibuk apapun bekerja baik di kantor, sekolah, pabrik, pasar, ladang, sawah dan sebagainya, pastilah mempunyai waktu luang di tengah-tengah kesibukannya. Dan dari waktu luangnyalah manusia membangun kerangka sejati mengenai dirinya. Orang-orang yang tidak punya kegiatan dalam hidupnya berpotensi sekali untuk melakukan pergunjingan dan gosip. Kosong tanpa kegiatan sama saja dengan mobil yang didorong. Jalan sendiri di sebuah jalan menurun. Jadilah mobil itu menabrak ke sana ke mari tanpa tujuan. Manakala suatu hari kita mengalami kekosongan dalam hidup, bersiap-siaplah untuk menyambut datangnya kesedihan, kesusahan, dan ketakutan. Sesungguhnya kekosongan kita akan membuka semua arsip masa lalu, masa kini, dan masa depan dari panggung kehidupan sehingga kita berada dalam kondisi yang rumit. Maka dari itu, mari kita isi kekosongan yang mematikan ini dengan melakukan kegiatan yang membuahkan hasil dan bermanfa’at. Kekosongan itu ibarat seorang pencopet yang sedang menunggu mangsanya. Begitu kita mengalami kekosongan, maka saat itu juga kita akan diserang gempuran ilusi dari angan-angan dan saat itulah akan hilang seluruh diri kita. Oleh karena itu, marilah kita bangkit mulai dari sekarang untuk mengisi kehidupan ini dengan berbagai kegiatan positif. Seperti ibadah, membaca, bertasbih, menelaah sebuah buku, menulis, merapikan meja kerja, atau memberi hal yang berguna bagi orang lain. Maka insya Allah kebahagiaan akan kita peroleh. Apa yang harus dilakukan? Membaca merupakan salah satu jawabannya. Baik itu membaca Alquran, kitab-kitab hadits, buku-buku ilmu pengetahuan dan motivasi, sampai membaca situasi kehidupan di sekeliling kita. Sehingga dengan begitu, waktu luang tidak akan terlewati dengan percuma. Mari renungkan, orang-orang yang telah mendahului kita begitu antusiasnya terhadap buku dan begitu efektifnya mereka memanfaatkan waktu. Maka sudah sepantasnya kita yang hidup di dunia serba modern ini di mana buku-buku sudah tersebar merata bahkan di internet pun dengan mudah kita bisa mengakses berbagai ilmu pengetahuan. Maka patutkah kita berdiam diri membiarkan waktu luang kita berlalu begitu saja? أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ، وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ ، الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ ، وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ، فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ، إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ، فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ، وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ . بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. Khutbah Kedua اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ, اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَاكُمْ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكم، وَلَذِكرُ اللهِ أَكْبَرُ. أقيموا الصلاة !!! Redaktur Deasy Lyna Tsuraya Beri NilaiLoading... Pria keturunan Jawa yang kini berlabuh di Palembang guna mengamalkan ilmu yang didapat selama belajar di LIPIA Jakarta. Ayat Pokok Efesus 515-16 Oleh Pdt. Raimond SumaaKetika Rasul Paulus menulis surat kepada Jemaat Efesus, keadaan zaman pada waktu itu adalah keadaan dunia yang jahat; sehingga melalui Paulus, Tuhan mengingatkan jemaat di Efesus untuk memperhatikan dengan saksama cara hidup dan bagaimana mereka mempergunakan waktu yang ada. Sebagai anak-anak Allah, kitapun harus berbuat hal yang sama. Sebab tingkat kejahatan pada masa sekarang, sudah jauh bertambah daripada zaman Paulus; bahkan kejahatan akan semakin bertambah kacau hingga akhir setiap hari yang kita lewati, Tuhan menginginkan kita memperhatikan dengan saksama cara hidup kita di hadapan Tuhan. Memperhatikan dengan saksama berarti fokus menjalani kehidupan dengan baik. Bukan hal-hal fisik saja yang harus diperhatikan, tetapi terlebih lagi hal-hal rohani sehingga kita menjadi anak-anak Allah yang berani percaya dan berani bertindak. Pada ayat 15 disebutkan bahwa Allah membandingkan 2 tipe manusia dalam hal memperhatikan cara hidup, yaitu orang bebal dan orang arif. Bebal berarti tidak cepat menanggapi sesuatu; tidak tajam pikirannya; dan bodoh. Arif berarti bijaksana / cerdik / pandai / tajam dalam merespon. Dari dua tipe ini, Allah menghendaki agar kita jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. Secara rohani, arif berarti bijaksana dalam merespon setiap Firman Tuhan dan bijaksana dalam menanggapi kehendak Tuhan. Kita menjadi bijaksana karena iman kita telah bertumbuh di dalam Tuhan. Supaya langkah hidup kita tidak seperti orang bebal, kita harus mempergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Ada 4 macam waktu yang dicatat dalam Alkitab, yaitu Waktu yang kekalWaktu yang tepat / tertentuWaktu urutan / kronologi kronosWaktu khusus kairos =moment / kesempatan yang harus digunakan secara tepatPengertian waktu yang dimaksud dalam “Pergunakanlah waktu yang ada” dalam ayat 16, adalah waktu khusus kairos. Kairos selalu dihubungkan dengan waktuNya Tuhan, yaitu waktu yang diberikan Tuhan yang di dalamnya kita diberi kesempatan untuk bertindak. Kairos merupakan waktu perkenanan Tuhan yang seringkali kesempatannya hanya datang satu kali, jika kita tidak berani bertindak maka kesempatan itu akan hilang. Seringkali kita melewatkan kairos Tuhan karena kita tidak memperhatikan hidup dengan bijaksana. Oleh sebab itu, dibutuhkan kearifan / hati yang bijaksana kepekaan hati untuk dapat menangkap kesempatan khusus kairos dari Tuhan. Contoh Ibrani 1115 Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. Orang-orang Israel yang ada di perantauan, mempunyai kesempatan kairos dari Tuhan untuk pulang ke kampung 610 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. Selama Tuhan masih berikan waktu khusus kairos kepada kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada sesama orang percaya / jemaat Korintus 61-2 Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. Sebab Allah berfirman "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang Tuhan beri, sebab kesempatan itu merupakan waktu perkenanan Tuhan atas hidup 418-22 mencatat ketika Tuhan Yesus mengajak Petrus dan Andreas untuk mengikutNya dan menjadikan keduanya sebagai penjala manusia, maka Petrus dan Andreas segera meninggalkan jala mereka dan mengikut Yesus. Petrus dan Andreas menangkap kesempatan kairos dari Tuhan untuk mengikut mengikut Yesus, dan akhirnya mereka berdua menjadi 1723-24 mencatat Abraham memperoleh kesempatan kairos dari Tuhan untuk disunat meskipun pada waktu itu usianya telah mencapai 99 tahun. Pengkhotbah 311 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Sebagai anak-anak Allah, kita harus percaya bahwa segala sesuatu akan dijadikan indah menurut waktuNya Tuhan. Haleluya. Mari berani melangkah dalam waktuNya Yesus memberkati kita semua. - Khutbah Jumat singkat bulan Dzulqa'dah akan membahas tentang peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Islam dapat menunaikan berbagai amalan sunnah di bulan Zulkaidah. Periode waktu sebelum Zulhijah dalam Kalender Kamariah tersebut memiliki banyak keutamaan. Sejumlah peristiwa penting masa lalu yang terjadi pada bulan ini juga bisa dijadikan sebagai pembelajaran satu peristiwa di bulan Zulkaidah adalah ketika Nabi Muhammad saw. melakukan haji wada’. Haji wada' merupakan peristiwa haji yang dekat dengan selesainya perjuangan Rasulullah saw. dalam menyebarkan Islam. Sebab tidak lama pasca terjadinya haji wada’, Nabi Muhammad saw. juga Contoh Teks Khutbah Jumat Bahasa Jawa Cara Menyambut Idul Adha Naskah Khutbah Jumat Singkat Cara Mendidik Anak menurut Hadits Khutbah Jumat Singkat Bulan Dzulqa'dah Peristiwa di Zulkaidah Bismillaahirrahmaanirrahiim..Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,اَلْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُأَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ في مُحْكَمِ كِتَابِهِ إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ، وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ سورة التوبة ٣٦Alhamdulillah. Puji syukur kehadirat Allah Swt. Berkat limpahan rahmat, taufik, serta inayah-Nya, kita hari ini, Jumat, [tanggal, bulan, tahun] dapat mengikuti majelis salat dan khotbah Jumat yang insyaallah diridai Allah dan salam Allah semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad saw., sosok uswatun-hasanah yang telah mengantarkan kita dari zaman kegelapan menuju masa yang kaum muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,Khatib memulai khotbah memulai dengan berwasiat kepada diri sendiri maupun jemaah sekali untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Swt. Sebab sebaik-baiknya orang beriman adalah mereka yang senantiasa bertakwa kepada Allah, menjalankan perintah dan menjauhi segala kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khotbah seputar peristiwa di kaum muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,Umat Islam beberapa waktu mendatang akan memasuki 10 hari terakhir bulan Zulkaidah 2023. Berkenaan hal tersebut, kaum muslim sebaiknya memanfaatkan waktu-waktu terakhir bulan Zulkaidah 1444 H dengan memperbanyak amal merupakan salah satu asyharul hurum bulan haram, bulan yang dimuliakan Allah Swt., selain Muharram, Rajab, Zulhijah. Barangsiapa memperbanyak amal saleh di bulan Zulkaidah, pahala perbuatannya dilipatgandakan. Abdullah bin Abbas ra. pernah berkomentar mengenai pahala berlipat ganda bagi amal saleh di bulan Zulkaidah ketika membahas Surah At-Taubah ayat 36 sebagai berikut“Beribadah dan beramal saleh di bulan-bulan haram dilipatkan gandakan pahalanya oleh Allah SWT. Demikian sebaliknya, bermaksiat dan berbuat dosa di bulan-bulan tersebut digandakan hukumannya”.Hadirin kaum muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,Selain mengandung keutamaan serta berbagai amal saleh yang dianjurkan, bulan Zulkaidah menyimpan beberapa peristiwa penting dalam Islam. Peristiwa pertama yang terjadi di bulan Zulkaidah adalah Perang Bani Quraizhah pada Zulkaidah 5 ketika selepas sampai di Madinah, Rasulullah saw. ditemui Malaikat Jibril. Dalam pertemuan tersebut, Jibril memerintahkan kaum muslim agar menuju perkampungan Bani Quraizhah untuk mengepung kaum mengepung sekitar 25 malam, Bani Quraizhah menyerah dan tunduk kepada keputusan Rasulullah Saw. Perang Bani Quraizhah salah satunya disebutkan Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab ar-Rahiqul Makhtum sebagai berikutوَقَعَتْ هَذِهِ الْغَزْوَةُ فِيْ ذِيْ الْقَعْدَةِ سَنَةَ الخَامِسَةَArtinya"Peperangan ini [Bani Quraizhah] terjadi pada bulan Dzulqa’dah tahun kelima [hijriah]".Hadirin kaum muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,Peristiwa kedua yang terjadi di bulan Zulkaidah adalah pembicaraan Nabi Musa as. dengan Allah Swt. sewaktu menerima wahyu berupa Kitab Taurat. Peristiwa pembicaraan Nabi Musa dengan Allah Swt. termuat dalam Surah Al-A’raf ayat 143 sebagai berikutوَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَArab LatinnyaWa lammā jā'a mūsā limīqātinā wa kallamahū rabbuhū, qāla rabbi arinī anẓur ilaika, qāla lan tarānī wa lākininẓur ilal-jabali fa inistaqarra makānahū fa saufa tarānī, falammā tajallā rabbuhū lil-jabali jaalahū dakkaw wa kharra mūsā ṣaiqān, falammā afāqa qāla subḥānaka tubtu ilaika wa ana awwalul-mu'minīna.Artinya“Ketika Musa datang untuk [bermunajat] pada waktu yang telah Kami tentukan [selama empat puluh hari] dan Tuhan telah berfirman [langsung] kepadanya, dia berkata, 'Ya Tuhanku, tampakkanlah [diri-Mu] kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.' Dia berfirman, 'Engkau tidak akan [sanggup] melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung ia tetap di tempatnya [seperti sediakala], niscaya engkau dapat melihat-Ku.' Maka, ketika Tuhannya menampakkan [keagungan-Nya] pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Maha Suci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman,” QS. Al-A'raf [7] 143.Selain 2 kejadian di atas, masih banyak peristiwa penting dalam Islam yang terjadi di bulan Zulkaidah sebagai berikut Paman Nabi Muhammad SAW, Abu Thalib meninggal pada Zulkaidah. Pada Kamis, 6 Zulkaidah tahun ke-10 hijriah, Rasulullah berangkat dari Madinah menuju Mekah untuk melaksanakan Haji Wada’. Pada Zulkaidah, Nabi Muhammad SAW menikahi Ummu Habibah, Ramlah binti Abu Sufyan ketika ia berada di negeri Habasyah atau Ethiopia. Pada Zulkaidah 41 H, Muawiyah bin Abu Sufyan menjadi khalifah pertama Dinasti Umayyah. Pada Sabtu, 7 Zulkaidah 403 H, ulama ahli ilmu kalam Imam Abu Bakr Al-Baqillani meninggal dunia. Hadirin kaum muslimin, jemaah Jumat rahimakumullah,Demikianlah khotbah seputar peristiwa di bulan Zulkaidah. Semoga apa yang telah disampaikan memberikan kebermanfaatan baik dalam bentuk pengetahuan maupun hikmah bagi khatib maupun jemaah sekalian. Aamiin allahumma اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُKhutbah IIاَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌعِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. - Sosial Budaya Kontributor Syamsul Dwi MaarifPenulis Syamsul Dwi MaarifEditor Fadli Nasrudin Bagian ini adalah bagian yang menyambung perikop sebelumnya yang berbicara tentang bagaimana Yesus datang bukan membawa damai di dalam pengertian yang tentu saja berbeda dengan pengertian damai yang seringkali dibicarakan secara positif, tetapi Yesus datang membawa juga satu pertentangan, pemisahan atau konflik yang necessary, kita sudah melihat bagian ini. Lalu di dalam penulisan dari injil Lukas, ini merupakan satu seri khotbah, sedikit mirip seperti yang ada di dalam khotbah di bukit, dikumpulkan oleh Lukas sendiri perikop-perikop yang kita baca ini menjadi satu kumpulan. Kalau kita membaca ayat 54-59 di sini kita melihat tidak ada paralel, at least di dalam versi LAI, tidak ada pararel dari Matius, Markus berarti ini satu spesial material dari injil Lukas. Bagian ini masih menyambung dari bagian yang dibicarakan di dalam Minggu lalu, perkataan-perkataan yang cenderung keras waktu kita membaca. Seringkali waktu kita melihat kekristenan hadir, saya percaya salah satu yang sangat ditonjolkan oleh kekristenan adalah sebagai agama kasih, agama pengampunan, itu tentu saja tidak salah, memang alkitab mengajarkan seperti itu, tetapi ini juga bukan keseluruhan dari gambaran picture tentang christianity. Kalau kita membaca di dalam bagian ini dan juga di dalam perikop-perikop yang berikutnya, itu ada perkataan-perkataan keras yang termasuk ke dalam picture yang juga belongs to true christianity. Nah di dalam ayat 54-59, di sini ada pengertian tetang kemunafikan yang digambarkan dengan facet yang sedikit berbeda dengan bagain-bagian yang sebelumnya yaitu dalam ayat 56 dikatakan, “hai orang-orang munafik”, lalu kalau kita melihat dibagian atas dan bawahnya, kita bisa melihat penjelasan apa yang dimaksud Yesus dengan pengertian munafik di sini dan berbeda dengan bagian dalam perikop-perikop yang sebelumnnya. Yesus menggambarkan satu gambaran sederhana, orang dunia ini, saudara dan saya sangat ahli di dalam memprediksi hal-hal yang ada di dalam dunia ini, fenomena-fenomena tentang cuaca, kalau dikembangkan dalam zaman ini, tentang perkembangan tehnologi, perkembangan saham, ekonomi dll, kita bisa menilai, tetapi yang menjadi persoalan di dalam kehidupan manusia adalah ia tidak mau tahu tentang perkembangan zaman, dia tidak mau tahu dengan perkembangan pekerjaan Tuhan yang sedang hadir di dalam dunia yang kelihatan dan hadir di dalam cara atau bentuk yang tidak kelihatan. Di sini Yesus memang mengatakan, “kamu tidak dapat menilai zaman ini”, tetapi saya percaya, persoalannya bukan tidak dapat, kalau tidak dapat, orang memang tidak tahu, di dalam pengertian tidak mampu tidak akan ditegur, tetapi unlike di dalam pengertian ini maksudnya mereka lebih berpura-pura untuk tidak mengetahui bahwa Yesus ini sebetulnya adalah orang yang diutus Tuhan, orang yang memberitakan kabar yang sesunggguhnya yang bukan diterima dari dirinya sendiri tetapi diterima dari Allah Bapa, tetapi mereka tetap di dalam kehidupan ini membuat diri mereka seolah-olah tidak tahu menahu tentang hal itu. Kalau kita melihat dalam bagian lain, bagaimana Yesus seringkali berpolemik dengan ahli Taurat dan orang Farisi, di situ salah satu ciri khas adalah mereka datang menghujani Yesus dengan pertanyaan yang tidak habis-habis. Pertanyaan yang tidak habis-habis itu bukan pertanyaan yang karena mereka dengan humble lalu ingin diajar, mau jadi disciple, mau jadi murid, bukan, tetapi menghujani Yesus dengan berbagai pertanyaan untuk menyudutkan, untuk membawa Yesus sibuk sehingga mereka tidak harus ditelanjangi dosanya. Ini bentuk dari pada kemunafikan. Kemunafikan itu bukan di dalam pengertian bahwa mereka betul-betul tidak bisa tahu siapa Yesus, mereka justru tahu, tetapi mereka pura-pura tidak tahu. Mereka sebetulnya sudah mendengar kalimat yang mereka perlu dengar, tetapi mereka terus rasionalisasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus berusaha men-justify diri mereka, ini yang menyebabkan orang betul-betul jatuh ke dalam dosa kemunafikan. “Yesus mengatakan dalam ayat 57, “mengapa engkau tidak memutuskan sendiri apa yang benar?”, keputusan iman terus di pending, terus di delay, tidak menyatakan satu keadaan yang betul-betul berkomitmen, inilah persoalan di dalam kekristenan, dia mungkin datang ke gereja, tetapi betul-betul tidak ada komitmen untuk mengikut Tuhan. Tidak datang ke gereja, ya tidak berani juga, jadi waktu Yesus berkhotbah, mereka mendengarkan, seperti ada ketertarikan, waktu Yesus mengajar mereka datang, tapi sambil mendengarkan sambil menghina, sambil tidak percaya, sambil jengkel, sambil sempit hati, dst. Tetapi lain kali Yesus khotbah lagi, ya mereka datang lagi dan masih mendengarkan, inilah persoalan di dalam kekristenan zaman ini, tidak jauh berbeda dengan apa yang digambarkan di dalam zaman Yesus. Tidak ada keputusan iman, terus pending, nanti ada saatnya dsb., Yesus mengatakan, mengapa engkau tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Di dalam pertanyaan ini terimplikasi sebetulnya mereka sudah tahu apa yang benar. Karena kalau mereka tidak tahu apa yang benar, Yesus tidak akan mengatakan kalimat seperti ini kan? Memang di sini Yesus tidak memberikan penjelasan tentang apa yang benar, meaning mereka sebetulnya sudah tahu apa yang benar. Pemberitaan tentang firman Tuhan, ajakan mengikut Yesus untuk memikul salib setiap hari, untuk menyangkal diri mereka sudah tahu, bukan tidak tahu. Di dalam acara KIN pak Tong mengatakan dalam khotbahnya, banyak orang punya pengetahuan, tetapi dari pengetahuan itu kemudian juga dia tidak mempunyai kekuatan untuk mengubah dirinya. Pengetahuan itu satu hal, tahu sih tahu, tetapi dengan kuasa pengetahuan saja, orang pasti tidak mempunyai kekuatan untuk meninggalkan dosanya, kalau hanya bergantung pada kuasa pengetahuan saja. Ada banyak orang yang pengetahuannya banyak sekali, tetapi tidak bisa meninggalkan kebiasaan yang berdosa, tidak punya kekuatan untuk itu, tapi dibilang tidak tahu, ya tahu….. Waktu Yesus berbicara tentang perumpamaan penabur, di situ digambarkan ada orang yang mendengar dan mengerti……, waktu dikatakan tidak mengerti….. mengerti….., di situ tidak dikatakan mengerti hanya dalam aspek dia bisa mencerna, khotbahnya tidak terlalu sulit untuk diterima, logikanya masuk dengan logika saya, bukan di dalam pengertian itu. Istilah mengerti di situ, istilah dalam firman Tuhan, mereka mendengar, mengerti dan mengerti di situ adalah orang yang melakukannya. Alkitab tidak memberikan satu gap antara mengerti dan melakukan itu, dalam alkitab tidak familiar dengan pembedaan seperti itu. Kita familiar kenapa? Karena hidup setelah zaman modern, orang sangat menekankan rasio, sehingga kita memisahkan, mengerti adalah satu hal dan melakukan adalah satu hal yang lain. Karena kita hidup di post enlightenment, setelah abad pencerahan, tetapi di dalam akitab, waktu dikatakan, mereka yang mendengar dan mengerti, Yesus tidak mengatakan, mengerti, menyimpan di dalam hati dan melakukannya tidak perlu kepanjangan, Yesus hanya bilang, yang mendengar mengerti, ya sudah. Karena yang mengerti yaitu yang melakukan, ini bukan menyangkut bahwa kita bisa mencerna secara gerakan logika dsb., itu bukan mengerti istilah alkitab, tetapi istilah mengerti dalam alkitab adalah orang yang melakukan. Sehingga di dalam perumpamaan penabur itu Yesus tidak merasa perlu untuk menambahkan mengerti + melakukan dan menyimpannya di dalam hati. Sebetulnya orang yang tidak melakukan, ya tidak mengerti, yang hanya mengerti di pengetahuan’, kalau seperti itu menurut alkitab belum mengerti. Kalau dia betul-betul mengerti, dia akan melakukannya, kalau dia mengerti, kalau dia percaya, dia akan menaatinya di dalam kehidupannya. Maka di sini Yesus menantang mereka untuk mengambil keputusan, bukan berarti bagian ini seperti ke arah armenian, bukan, biasanya kita kan menekankan bahwa Tuhan yang memilih, Tuhan yang memutuskan, Tuhan yang memberi kesempatan, tetapi kemudian di sini ditekankan aspek manusia yang mengambil keputusan. Saya percaya ini tidak berbenturan sama sekali dengan kedaulatan Tuhan, dengan souvereignty of God, kalau kita bandingkan dengan trilogi dari domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang. Kalau kita membaca, gerakannya berbeda, dua perumpamaan yang pertama membicarakan tentang bahwa yang kehilangan yang mencari, tetapi dalam perumpamaan yang ketiga, itu diberikan ruang bahwa yang hilang yang kembali, seperti kelihatan yang kehilangan tidak mencari, maksudnya bapaknya tidak mencari. Memang tekanannya bukan di situ, ingin memberikan tekanan kepada manusia, termasuk juga dalam bagian ini. Tentu saja kalimat ini tidak salah dan tidak berbenturan dengan doktrin kedaulatan Tuhan, tetapi memberikan satu peringatan, satu ajakan kepada para pendengarnya untuk mengambil keputusan. Mengambil keputusan itu satu hal yang tidak bisa dilakukan dengan gegabah, karena itu waktu kita membaca dalam bagian ini, Yesus juga memberikan satu argumentasi, satu gambaran Allah sebagai hakim, yang siap untuk menyeret setiap orang yang berdosa ke ruang pengadilan. Lalu kalau orang itu tidak bisa membayar hutangnya, dia akan diserahkan ke penjara, lalu dia tidak akan keluar sampai hutang itu lunas dibayar, meaning sebetulnya tidak ada kemungkinan. Ini adalah persuasi di dalam cerita yang diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam pengertian membawa mereka ke dalam pengertian bahwa meskipun Kerajaan Allah sudah datang, sudah ada diantara mereka, tetapi ini bukan berarti setelah itu selalu ada kesempatan bagi mereka untuk bisa bertobat kapan saja? Tidak, karena akan ada waktunya dimana kairos itu tidak ada lagi, dimana moment itu tidak diberikan lagi dan orang harus berhadapan dengan penghakiman dari Tuhan. Seringkali waktu kita membicarakan tentang alkitab, tentang Yesus Kristus, ya kita bicara tentang damai, kasih, belas kasihan, pengampunan, kesabaran dst., saya percaya bahwa ada aspek yang membicarakan bagian ini, tetapi dalam alkitab yang kita kenal, yang asli ini, kita juga membaca bahwa Yesus datang bukan hanya membawa damai, tapi konflik, pertentangan, penghakiman, murka Allah, dst. Nah bagian ini imbang ditekankan dalam kekristenan, kita tidak bisa mengumbar konsep hanya dalam aspek yang pertama saja dengan tidak menekankan aspek yang berikutnya ini, yaitu konflik yang dalam bagian ini membicarakan tentang Allah sebagai Hakim. Justru apa yang dimaksud dengan damai sejati? Kan di sini muncul lagi kata damai, berusahalah berdamai dengan dia, tadi diperikop sebelumnya kita membicarakan tentang necessary conflict, kita tahu konflik yang paling besar adalah konflik manusia dengan Tuhan sendiri. Manusia berdosa dihadapan Tuhan, itu berada dalam satu konflik, tidak ada damai, lalu di sini menjadi satu ajakan, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan. Selagi masih ada kesempatan, berdamailah dengan Tuhan, karena ini tidak terus-menerus akan diberi, kadang-kadang kita melihat orang terus hidup di dalam dosa, mencintai dosanya, tidak mau keluar dari dosanya, yang ada di dalam pikirannya apa ya? Dia bukan tidak tahu bahwa Tuhan itu ada, tentu saja tahu, apalagi dia orang kristen? Dia tahu, tapi dia pikir, Tuhan itu sabar dan betul sih, sepertinya Tuhan memberi toleransi yang panjang sekali, seperti Hitler, dia adalah salah satu orang yang mengalami kesabaran Tuhan dan juga Yudas, kesabaran Tuhan begitu panjang untuk orang seperti mereka ini. Kepada orang yang bukan pilihan Tuhan, yang ditolak, kesabaran Tuhan bisa sepanjang itu, saya percaya, kepada saudara dan saya yang percaya, kita orang-orang kristen, pasti Tuhan punya kesabaran juga yang sangat panjang. Tetapi ini bukan berarti lalu kita boleh mempermainkan kesabaran Tuhan. Mereka yang hidup tidak berdamai dengan Tuhan akan mengalami penghakiman. Kalau kita tarik di dalam konteks yang betul-betul setia kepada pembacaan di sini, konteksnya likely kepada orang yang memang akan percaya atau tidak percaya, tetapi saya pikir di dalam gambaran prinsip yang sama, meskipun kita tahu kita yang percaya tidak akan dihakimi, tetapi bukan berarti Tuhan tidak akan menghakimi perbuatan yang kita kerjakan selama kita berada dalam dunia. Kita orang percaya pasti akan diselamatkan oleh korban Kristus yang sempurna, tetapi hukum siapa menabur apa, siapa menuai apa, itu juga berlaku untuk orang kristen, bukan hanya berlaku untuk orang non kristen. Memang kita pasti akan diselamatkan, kita yang sudah percaya kepada Yesus Kristus, tapi itu ditandai dengan satu kehidupan yang meng-include termasuk bagian pengertian Allah sebagai Hakim. Ada satu gerakan teologi yang suka sekali membicarakan tentang Tuhan sebagai pengampun, the love of God, kita percaya kepada Yesus Kristus, tidak ada lagi kutukan, kita dibebaskan dari semua kutuk yang sudah ditanggung oleh Yesus Kristus di atas kayu salib. Ya memang ada betulnya, poin itu bukan sepenuhnya salah, memang Yesus menanggung kutuk dosa kita di atas kayu salib, itu betul, tetapi ini hanya sebagian puzzle, bukan keseluruhan puzzle. Orang yang hanya berkanjang di sebagian puzzle ini yang berbicara tentang bahwa kita ini biji mata Allah, Tuhan senantiasa menanti, Tuhan selalu berbelas kasihan, Tuhan selalu mengampuni, datanglah lagi dan lagi minta pengampunan dosa, Tuhan akan selalu setia berdasarkan janjiNya dsb. Saya kuatir ajaran seperti ini sebetulnya ada betulnya bisa menyeret orang ke dalam neraka. Karena sebagian terus berkanjang kepada yang sebagian, lama-lama menyesatkan, ini satu kebahayaan, sesuatu yang partial. Memang kita semua pengertiannya partial, harus membedakan antara orang yang pengertian partial, makin lama makin bertumbuh, makin komplit dengan semua orang yang sengaja terus mempertahankan yang partial. Waktu Tuhan menggerakkan untuk yang lebih perlu, dia tidak mau, dia tidak suka dengan yang ini, terus sengaja partial. Bukan hanya itu, yang partial ini terus diberitakan kepada orang lain, sengaja hanya yang partial saja, seperti ini kan menyesatkan, ya kan? Kita bisa ambil contoh dalam keseharian, bagaimana kita menggambarkan orang lain, orang kan facet-nya banyak, bisa macam-macam, tetapi kalau kita sengaja memberitakan yang partial tentang orang lain, maka akan bisa membawa orang pada pengenalan realita yang sama sekali salah tentang orang itu. Seringkali kita dari pengertian partial coba membangun profiling, karakter, kehidupan realita dsb., banyak melesetnya, sesuatu yang partial lalu kita buat besar, kita ambil kesimpulan sendiri, kita buat puzzle sendiri, mirip seperti orang yang hidup dalam paranoia. Saya pernah memiliki satu teman yang mempunyai hermeneutik menakutkan seperti ini, karena setiap ada kejadian apa, dia bisa ada tafsirannya, lalu dia kait-kaitkan, semua kejadian dia kait-kaitkan, lalu dia buat picture cerita, jalan cerita yang tidak ada sama sekali. Sedikit seperti orang yang terganggu jiwanya, tetapi itu sudah menjadi life style dalam kehidupannya dia, wah sangat menakutkan orang seperti itu. Membangun partial-partial story, lalu setelah itu menciptakan realita yang dia percayai itu sebagai kebenaran. Sama terhadap Tuhan juga seperti itu, waktu seseorang menggambarkan Tuhan, Tuhan itu baik, pengampun, penuh belas kasihan, kesabaran dll., itu memang betul sih, tidak ada yang salah, ini memang betul-betul real, gambaran ini ada, dan ini belum keseluruhan aspek pemahaman tentang Allah. Waktu seseorang bersikeras untuk membangun hanya di dalam pengertian itu, terus membangun keseluruhan realita tentang Tuhan, pasti distorted. Orang yang hanya membangun di dalam konsep seperti ini, terus mengajarkan Yesus di dalam konsep yang seperti ini, yang senantiasa menanti, menunggu, yang selalu mengampuni dosa kapanpun kita datang kepadaNya dan minta pengampunan daripadaNya, akan bisa menyeret orang itu ke dalam neraka. Iman yang sejati itu termasuk di dalam bagian pengenalan akan Allah sebagai Hakim, bukan hanya sebagai Juruselamat, bahkan di dalam injil Matius kalau kita baca, di situ agak sedikit berbeda, bagaimana melihat gambaran kehidupan perjalanan seorang kristen, itu salah satu dasar, fondasi etik dari pada Matius. Melihat bagaimana waktu seseorang taat ada reward, waktu seseorang tidak taat, ada hukuman, reward and punishment, bagian ini dalam Matius khususnya sangat kuat. Meskipun tidak terlalu kuat di dalam injil Lukas, tetapi waktu kita membaca di dalam perikop berikutnya yaitu bagaimanapun ini adalah konteks pembicaraan tentang kaitan kepercayaan teologi yang seperti itu. Di dalam PL teologi seperti ini sangat akrab, seorang teolog bernama Koch memberikan satu istilah a deeds consequence theology atau doktrin deeds consequence theory khususnya dari wisdom book – kitab-kitab puisi atau deuteronomy yaitu kepercayaan sederhana, waktu seseorang taat, dia diberkati, waktu seseorang tidak taat, dia akan mengalami malapetaka. Di dalam kitab Yosua deuteronomi kita membaca prinsip ini berulang-ulang, Yosua menantang kepada bangsa yang dipimpin, silahkan kamu menentukan mau taat kepada Tuhan, kalau kita taat dalam jalan damai sejahtera, tetapi kalau kita tidak taat bukan berkat tapi kutuk. Nah gambaran ini, ada deeds ada consequence, itu begitu establish di dalam PL, khususnya di dalam pentateuch, deuteronomi, Yosua dsb. Tapi kemudian di dalam wisdom book, itu mulai terjadi satu persoalan, misalnya satu contoh klasik kitab Ayub, kitab Ayub itu mempersoalkan deeds consequence theology karena di situ ada gambaran bahwa ini seseorang yang taat, hidup benar tetapi kenapa menderita? Kita melihat di sini teorinya tidak berjalan, sampai sekarang masih bisa jadi issue, orang-orang di dalam kepercayaan kristen, mereka juga bertanya, saya sudah melayani Tuhan, saya hidup benar, saya hidup taat, lalu kenapa saya mengalami suffering seperti ini? Mengapa saya menderita? Mengapa tiba-tiba sakit penyakit masuk di dalam kehidupan saya? Lalu teologi tertentu mengatakan, oh…. tidak…. itu tidak mungkin… karena orang yang hidup benar tidak akan mengalami seperti itu, terus bersikeras di dalam teologi pentateuch yang belum dilengkapi oleh perspektif wisdom book dsb. Waktu kita membaca kitab Ayub, memang indeed itu menjadi satu kesulitan, dimana waktu seseorang righteous dan ini righteous, bukan ge-er bukan rasa self righteous, Ayub betul-betul righteous itu di konfirmasikan oleh Tuhan sendiri, di bumi tidak ada orang seperti dia. Dan Tuhan juga mendemonstrasikan kesalehan Ayub, sampai iblis juga tertarik untuk menggocoh dan menggoda dia. Tapi dalam kitab Ayub waktu kita membaca, yang menjadi persoalan memang ternyata orang benar bisa menderita, orang benar bukan selalu dibebaskan dari sakit penyakit, lalu semuanya berada dalam perlindungan berkat Tuhan, tidak pernah kena malapetaka sama sekali atau sebaliknya kalau orang sakit, orang terkena malapetaka.. oh… itu pasti ada dosa, begitu kan ya? Ini too simple gambaran seperti ini, dalam kitab Ayub, teologi itulah yang dipercaya oleh teman-teman Ayub, karena mereka tidak bisa berpikir lain. Taat berkat, tidak taat kutuk, begitu simpel kan logikanya? Nah sekarang lihat keadaan Ayub, mana? Lebih mirip keadaan berkat atau kutuk? Sepertinya lebih mirip kutuk, kalau begitu ya sudah, pasti tidak taat, makanya teman-teman Ayub terus-menerus meminta Ayub mengaku bahwa dia melakukan dosa, dosamu apa Ayub? Nanti kita doa sama-sama meminta ampun, karena Tuhan maha pengampun dsb. Tapi Ayub terus mempertahankan integritasnya waktu kita membaca di dalam salah satu pasal dalam kitab Ayub bagaimana dia menyatakan kehidupan yang indeed saleh itu. Saya melakukan apologi yang me-list integritasnya, adakah yang ini, adakah yang ini… adakah aku memeras…..dst. Ayub tidak melakukan semuanya itu, lalu kenapa mengalami pengalaman kutuk seperti ini? Kenapa mengalami malapetaka seperti ini? Di dalam latar belakang deeds consequence theory kita membaca perikop pasal 131-5, di situ ternyata meskipun sudah ada kitab Ayub, sudah ada Mazmur dsb., bagaimanapun orang Israel masih berpikir seperti ini juga. Waktu di sini dikatakan gambaran ada orang-orang Galilea darahnya dicampurkan dengan darah korban yang mereka persembahkan, ini betul-betul kekejian. Untuk gambaran orang Yahudi, darah itu melambangkan kehidupan orang itu sendiri, darahnya, lalu itu dicampur dengan darah korban, ini tidak kebayang sama sekali, itu betul-betul satu persembahan kekejian, seperti mempersembahkan anak, terus hidup-hidup dikorbankan, itu kan kekejian dihadapan Tuhan? Pilatus melakukan satu ritual yang benar-benar unthinkable seperti ini, yang betul-betul membuat satu skandal untuk kepercayaan Israel, sangat menakutkan, orang tidak bisa tidak pasti berpikir, ini orang sampai mengalami hal seperti itu, ini orang pasti berdosa luar biasa. Seperti Ahab waktu mati, lalu darahnya dijilat anjing, itu sudah najis luar biasa, waduh… orang ini pasti kena kutuk, ini orang pasti hidup sama sekali tidak benar, sampai kematiannya seperti itu. Lalu di sini bukan hanya dijilat anjing, malahan dicampurkan dengan darah korban yang mereka persembahkan, luar biasa… sangat menjijikkan… bangsa yang sangat keji. Waktu kita membaca bagian ini, waktu kita melihat orang-orang yang mengalami malapetaka seperti itu, Yesus menyoroti kejahatan manusia. Lebih dari pada sekedar men-judge mereka, tetapi juga sebetulnya sekaligus menganggap mereka, kamu pasti berdosa, karena kalau tidak, kamu tidak mungkin mengalami kesulitan seperti itu. Lalu bersamaan dengan itu menempatkan diri lebih tinggi, inilah yang celaka, betul-betul celaka. Waktu teman-teman Ayub berbicara kepada Ayub, sudahlah kamu mengaku dosa saja, pasti ada yang salah dalam hidupmu, kalau tidak ada, tidak mungkin kamu seperti ini. Itu bukan sekedar judgment terhadap Ayub, tetapi di dalamnya mengatakan kamu bersalah kami tidak, coba lihat kehidupan kamu, saya tidak sakit, saya tidak bangkrut… coba lihat dirimu. Bersamaan dengan itu timbul self righteousness, salah satu musuh paling besar yang dibicarakan Yesus terus-menerus di dalam injil. Self righteousness, merasa diri lebih baik dari pada orang lain, merasa lebih beriman, merasa lebih cinta Tuhan, lebih mengasihi Tuhan, lebih dekat kepada Tuhan, lebih mengerti isi hati Tuhan, merasa lebih reformed injili, jadi self righteousness itu musuh di dalam kekristenan. Maka Yesus mengingatkan mereka, kamu jangan berpikir orang-orang ini lebih besar dosanya dari pada semua orang Galilea yang lain, terlalu simple berpikir seperti itu. Mengalami malapetaka lebih besar, dosa lebih besar, mengalami kebahagiaan, berarti taat, kebahagiaan lebih besar berarti ketaatan lebih besar, gambaran seperti ini too simple. Memang ada betulnya karena pentateuch mengajarkan itu, coba kita baca kitab Yosua dll., ajakan untuk taat, orang yang taat akan diberkati, yang tidak taat akan mengalami malapetaka, di dalam PL itu bukan ajaran yang salah. Tetapi sekali lagi, ini partial, ajaran ini tidak komplit, sesuatu yang partial lalu dibentangkan semua jadi satu big picture, teologi seperti ini bahaya sekali. Saya percaya di dalam kepercayaan teologi reformed injili, komitmen untuk terus-menerus menggali kekayaan alkitab, kita tidak bilang bahwa teologi reformed injili itu sempurna seperti alkitab sendiri sempurna, ya tidak. Tetapi di dalam spirit reformed injili kita berusaha untuk mengenal bukan hanya satu atau dua puzzle, tetapi keseluruhan puzzle yang betul-betul dibicarakan di dalam alkitab. Dalam bagian ini Yesus merelativisasi, coba kita perhatikan, Yesus tidak mengatakan bahwa keadaan malapetaka yang mereka terima ini tidak ada hubungannya dengan dosa, Yesus tidak mengatakan itu. Karena di sini waktu berbicara, jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua juga akan binasa atas cara demikian. Jadi Yesus merelativisasi kaitan antara malapetaka dengan penyebab dosanya, ada orang yang bertanya, dia ini buta, sebetulnya dia buta, siapa yang bersalah? Apakah dia buta karena orang tuanya yang melakukan dosa atau dia buta karena dosanya sendiri? Yesus merelativisasi bagian ini, seolah-olah Yesus mau mengatakan, saya tidak mau bicara ini dosanya siapa, kita lihat vector ke depan, bukan vector ke belakang, kita melihat vector ke depan supaya kemuliaan Tuhan dinyatakan. Tetapi waktu kita membaca bagian ini, Yesus bukan mengangkat sepenuhnya kaitan antara malapetaka, sakit penyakit, kematian dsb., dengan dosa, lalu mengatakan, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan dosa, tidak, Yesus tidak mengatakan seperti itu. Yesus mengatakan, kamu jangan berpikir kalau seseorang mengalami malapetaka, kematian, terus kamu tidak, itu berarti dia lebih besar dosanya dari pada kamu and therefore dia mengalami malapetaka, lalu kamu tidak mengalami malapetaka, lalu kesimpulannya saya dosanya tidak sebesar dia, oooh tidak seperti itu. Yesus bilang, kalau kamu tidak bertobat, kamu akan mengalami hal yang sama seperti mereka. Sebetulnya ini mau mengatakan apa? Kita yang sehat, yang belum terkena kanker dsb., kita yang belum bangkrut dsb., ini tidak menyatakan sama sekali bahwa kita hidup lebih baik dari pada orang lain, itu yang mau dikatakan Yesus. Waktu kita melihat orang lain menderita, kita berpikir bahwa orang ini pasti ada dosanya, pasti ada sesuatu yang salah dalam hidup orang ini, maka mengalami hal seperti ini. Memang mungkin betul, mungkin seseorang menderita karena ada dosanya, tetapi jangan lupa, kita yang tidak menderita bukan berarti kita jadi tidak ada dosanya atau dosanya lebih kecil dari pada orang itu. Waktu kita belum menderita itu hanya mau mengatakan kesabaran Tuhan masih sedang ditahan untuk saudara dan saya, bukan mau mengatakan bahwa kita lebih baik atau lebih benar dan karena itu kita tidak menderita, ya bukan. Hal ini juga mau mengatakan bahwa Tuhan masih memberikan kepada kita kesempatan untuk bertobat, tetapi kesempatan ini bukan selama-lamanya, lalu kalau kita menganggap sepi kemurahan dan kesabaran Tuhan, kita terus pending, mengulur-ulur waktu, Yesus mengatakan, kamu akan binasa juga atas cara yang demikian. Di dalam kedaulatan Tuhan, tidak ada orang bisa menasehati Dia, siapa diberikan kesempatan untuk bertobat berapa lama, itu di dalam kedaulatan Tuhan, kita tidak bisa mengerti. Kadang-kadang ada satu keadaan gambaran yang kita pikir seharusnya masih boleh ada kesempatan, justru Tuhan tidak kasih kesempatan lagi kepada dia. Ada juga gambaran, orang seperti dia ini tidak usah diberikan kesempatan lagi, terlalu banyak menyia-nyiakan anugerah Tuhan dan ternyata kesabaran Tuhan masih dinyatakan di dalam diri orang itu, malah panjang sekali. Kita harus hati-hati, kalau-kalau kita adalah orang yang termasuk kategori seperti ini, jangan kita mempermainkan kesabaran Tuhan. Tetapi seperti yang dikatakan di sini, putuskanlah, ambil keputusan, di dalam kekristenan sebenarnya hanya ada dua kategori, either seseorang itu beriman dan mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh atau tidak ikut sama sekali dan tidak mau tahu sama sekali, tidak ada gambaran kekristenan yang abu-abu. Saudara dan saya, kita diundang, kita di encourage untuk masuk ke dalam kehidupan seperti yang Yesus kehendaki. Perikop yang terakhir mengingatkan kita tentang bahaya self righteousness di dalam dunia, kita berusurusan dengan banyak penderitaan, waktu kita melihat penderitaan orang lain, orang yang bijaksana, dia merefleksi dirinya, ini seperti Tuhan memberi cermin waktu kita melihat orang lain menderita, mengalami sakit penyakit, sebetulnya saya juga bisa mengalami hal seperti ini dst., tetapi kenapa saya masih sehat, masih mengalami anugerah Tuhan, artinya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin. Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah AS

khotbah tentang waktu dan kesempatan